Air untuk Bersuci (Seri 1 Thaharah)

FATHUL QORIB mengawali pembahasan thaharah dengan menyebut macam-macam air. bagi kitab yang disebut dasar dari kitab-kitab yang bermadhab syafii, air yang ada di dunia melliputi tujuh jenis air yang dipakai sebagai media bersuci. Air-air itu antara lain : air langit (air hujan), air laut, air sungai, air sumur, air dari mata air, air salju, dan air dingin.  Air air ini, pada asalnya semuanya suci dan mensucikan.

Pertama adalah air muthlaq dan musta’mal.

Air mutlaq adalah air yang menurut sifat asalnya. air ini terdiri dari tujuh macam air, seperti telah disebutkan diatas. dan bisa dikatakan bahwa kondisi air ini suci karena masih murni. kesepakatan ulama menyebutkan bahwa air ini suci dan mensucikan.

Namun demikian, air tersebut bisa menjadi suci tetapi tidak mensucikan, serta bisa juga terkena najis (mutanajis) dan tidak mensucikan. Jika ada tiga faktor yang berubah pada air asali atau air mutlaq, maka air mutlaq tersebut bisa menjadi suci tidak mensucikan ataupun mutanajis atau terkena najis dan tidak mensucikan.

Perubahan pada air tersebut antara lain adalah berubahnya tiga sifat air, yang antara lain, rasa, warna dan bau. Jika perubahan tersebut karena barang atau sesuatu yang suci, maka air tersebut tetap suci, tetapi tidak mensucikan. artinya air tersebut tetap suci tetapi tidak bisa dipakai bersuci, seperti berwudlu, mandi jinabat atau yang lain.

dan Jika perubahan bau, warna dan rasa pada air mutlaq diakibatkan oleh sesuatu yang najis, seperti darah, air seni, kotoran dan sebagainya, maka air tersebut hukumnya mutanajis atau terkena najis dan tidak dapat mensucikan.

Air Musta’mal

Sesuai dengan nanamnya, air musta’mal adalah air yang telah terpakai. Nama Musta’mal sendiri berasa dari akar kata amala yang berarti perubuatan atau perilaku. Jadi Air Musta’mal adalah air yang telah dipakai.

Pengertian musta’mal bisa diterapkan jika air mutlaq tersebut mengalami  perubahan pada tiga unsurnya yaitu warna, rasa dan bau berubah setelah pemakaian. jika tidak mengalami perubahan, maka air tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai air yang musta’mal.

Air yang kurang dari dua qullah  (500 kati iraq atau dalam ukuran modern : panjang 60 cm x lebar 60cm x tinggi 60 cm) akan mengalami perubahan pada salah satu dari tiga unsurnya, (bau, warna,  rasa). air inilah yang nantinya disebut musta’mal.

Sebagai contoh. Pada jaman dahulu, orang wudlu di bak mandi. tentu saja sulit sekali menjaga agar air wudlu yang kita pakai untuk membasuh wajah, tangan atau kepala tidak kembali ke bak mandi. Jika bak mandi kita di bawah atau kurang dari  ukuran tersebut diatas (60x60x60) maka air yang kita pakai wudlu tidak diperbolehkan menetes pada bak mandi tempat kita mengambil air wudlu, sebab jika menetes sedikit saja, maka wudlu tahapan wudlu selanjutnya tidak syah, karena kita meneruskan tahapan wudlu dengan air musta’mal suci tapi tidak mensucikan. sebaliknya. Jika ukuran bak mandi kita diatas dua qullah (60x60x60cm) maka air yang jatuh ke bak mandi dipasatikan tidak mempengaruhi rasa, warna maupun bau air, sehingga tidak masuk kateogrimusta’mal.

Dan air akan menjadi mutanajis (terkena najis) sehingga air menjadi tidak suci dan tidak mensucikan, karena berubahnya bau, rasa dan warana karena terkena barang atau sesuatu yang najis.

Konsep dasarnya sama, yaitu bau rasa dan warna. Jika air yang terkena najis tidak berubah baik, bau, rasa dan warnanya, maka air tersebut tidak mutanajis, dan masih dapat dipergunakan untuk bersuci. misalnya air laut yang dikencingi anak kecil atau orang dewasa, maka air tersebut tetap suci dan dapat dipergunakan untuk bersuci, karena air kencing tersebut tidak merubah bau, warna dan rasa dari air laut.

Air Mudhaf

Air Mudhaf , adalah air yang keluar dari suatu benda,  seperti air yang dihasilkan dari perasan tebu, perasan kelapa, atau air kelapa, dan sebagainya. air ini suci tapi tak bisa mensucikan.

Air Dua Qulah

Air Dua kulah seperti di singgung di atas adalah air yang banyaknya 500 kati irak atau lebih. dalam konsep masyarakat modern sekarang, ukuran itu sering di bahasakan dengan air dalam wadah dengan ukuran panjang 60 cm x lebar 60 cm dan tinggi 60 cm.

Tentu saja ukuran itu bisa kita ubah ubah asal tetap mempunyi isi sama atau melebihi dari ukuran itu. sebagai suatu contoh, 70 cm x 50 cm x 60 cm. maka ukuran ini akan sama dengan dua kullah.

Konsep 2 kullah ini berkaitan dengan banyak dan sedikitnya air.  Sebab banyak sedikitnya air akan berpengaruh pada bau, warna dan rasa ketika bersentuhan dengan barang atau sesuatu di luar air.

Seperti kita tahu, bahwa warna, rasa dan bau terkadang sangat halus dan sulit untuk di deteksi, maka konsep dua kulah ini memberi kita ukuran berubah atau tidaknya tiga unsur tersebut pada air. sebagai contoh, kita mempunyai bak mandi, lalu kita campur dengan teh, atau terkena percikan air kencing kita. maka kita harus membaui, merasakan dan melihat warnanya. Namun, bila campurannya sedikit, maka akan sangat sulit untuk mendeteksi hal tersebut. Maka muncullah konsep dua kulah yang bisa dijadikan baromter dalam menentukan hukum air tersebut. jika kurang dari dua kulah, maka bisa dipastikan bahwa air tersebut musta’mal (bila bercampur dengan teh) atau terkena najis( mutanajis) bila terpercik air kencing. Dan begitu juga sebaliknya.

Air mengalir dan Air tenang.

Prinsip dari hukum air baik mengalir atau tidak tetap sama seperti diatas, yaitu harus di lihat dari banyak tidaknya air tersebut. namun, pada awalnya, air terebut suci dan mensucikan. artinya sebelum bercampur dengan sesuatu yang lain, air tersebut tergolong air mutlaq.

Ada banyak sekali perbedaan tentang air mengalir antara imam madzab yang satu dengan lainnya. Syafi’i tetap berpendapat bahwa air yang mengalir, jika kurang dari dua kullah maka air tersebut jika tercampur dengan najis akan menjadi mutanajis. pendapat ini didasarkan pada Hadist Nabi yang menyebutkan “Apabila air sebanyak dua kullah, ia tidak membawa najis” maka dalam pengertian tersebut, air yang dibawah ukuran dua kullah bisa saja membawa najis. Namun, Imam yang lain mempunyai pendapatyang berbeda.

Ditulis dalam Fiqh, Uncategorized. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: