Pengertian Waji, Mustahil dan Jais dalam Tauhid

Seperti sudah menjadi kefahaman, bahwa Madzhab  Maturidiyah menyakini, bahwa sumber tauhid tergantung pada pemahaman manusia terhadap 50 (lima puluh) aqidah. Semua manusia yang ingin dianggap beriman harus tahu dan yakin terhadap hal ini. sebab jika tidak, maka yang bersangkutan di anggap taqlid (hanya ikut-ikutan dalam mempercayai Alloh).

Lima puluh aqidah tersebut, terbagi menjadi tiga bagian. bagian pertama adalah wajib. Wajib di sini bukan berarti akal manusia harus melakukan sebuah perbuatan. namun, wajib adalah sebuah kondisi, dimana akal manusia hanya bisa menerima jika berdasarkan fakta-fakta yang ada, sehingga apa yang terucap dan dapat dipercaya harus masuk akal. Dengan kata lain, Wajib adalah kondisi dimana akal manusia tidak akan bisa menerima jika sesuatu itu tidak ada.

Sebagai sebuah contoh, sebuah tempat yang bernama Lubang Buaya berada di Rengas Dengklok. Lubang Buaya ini berkaitan erat dengan cerita G.30 S. PKI. siapapun dapat menerima, bahwa Lubang buaya yang di maksud berda di rengas dengklok. Maka Lubang Buaya berada di Rengasdengklok berhukum Wajib.

Kedua, adalah Mustahil. Mustahil merupakan kondisi di mana akal tidak bisa menerima kebenaran suatu hal. Dalam bahasa sehari hari, Mustahil adalah kondisi yang tidak masuk akal.

Sebagai sebuah contoh, Ada yang menyebutkan sebuah benda. Dia menerangkan bahwa benda itu diam dan bergerak secara bersamaan. Maka hal tersebut Mustahil, karena tidak masuk akal.

Ketiga adalah Jaiz, Jaiz pada dasarnya berarti boleh. Jaiz dalam hal ini diartikan sebagai sebuah kondisi dimana ada atau tidak adanya sama sama di terima oleh akal.

sebagai contoh, Zaid sudah punya istri atau ada yang menyebut Zaid belum beristri. kondisi ini bisa saja terjadi kedua duanya, sebab merupakan kondisi yang terbuka.

Dalam kifayatul awam, tiga hal ini menjadi sangat penting, karena menjadi dasar untuk mengetahui 50  aqidah atau kepercayaan terhadap Alloh. DAn musonnef atau pengarang kitab tersebut mewajibkan semua orang dewasa mukallaf wajib mengetauhinya.

Pendapat yang lebih extrim datang dari Imam Haromain, beliau berkata bahwa “ketiga pengertian diatas merupakan hakikat  akal manusia. Dan bagi yang tidak mengetahui hal tersebut, dianggap tidak berakal.”

wallohu a’lam bimurodih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: